Memahami Sistem Mesin Motor Pembakaran Dalam (Internal Combustion Engine)

Motor bakar adalah alat (mesin) yang menghasilkan tenaga dari suatu proses pembakaran bahan bakar. Sementara itu motor pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) adalah motor atau mesin, yang di mana proses pembakaran bahan bakar  terjadi di ruang tertutup yang disebut dengan ruang bakar. Reaksi eksotermis dari bahan bakar dan oksidator akan menciptakan gas dengan suhu dan tekanan yang tinggi, yang kemudian akan di bakar supaya bisa melepaskan energi yang besar untuk menggerakkan robot/poros mesin.
Internal Combustion Engine

A. Mengenal Mesin Motor Pembakaran Dalam

Jenis motor pembakaran dalam yang paling banyak di gunakan dalam memudahkan pekerjaan sehari-hari adalah motor bensin. Motor bensin ini menggunakan bahan bakar bensin, yang secara umum banyak di aplikasikan untuk mesin mobil-mobil transportasi, mobil angkutan, dan mesin sepeda motor. Motor bensi ada dua jenis menurut cara kerjanya, yaitu jenis motor bensin 2 langkah (diciptakan pertama kali). Dan jenis yang kedua adalah mesin bensin 4 tak, di kenal paling efektif dan irit bahan bakar.

Selain motor bensi, ada juga motor diesel yang menggunakan bahan bakar solar, secara umum banyak di aplikasikan untuk kendaraan-kendaraan/alat berat seperti mesin industri, mobil keruk, tank, ktruk besar, kapal laut, pembangkit listrik tenaga diesel, dll. Motor diesel juga banyak digunakan untuk mobil kecil dan mobil niaga namun dengan teknologi terbaru, sehingga efek getaran tinggi dan suaranya yang kasar dapat bisa di atasi.

B. Jenis Motor Pembakaran Dalam Lebih Luas

Mesin pesawat seperti pesawat jet, helikopter, ataupun roket yang menggunakan mesin turbin gas juga bisa dimasukkan ke dalam golongan mesin pembakaran dalam. Mesin turbin jet ini membakar bahan bakar secara terus menerus, sehingga menghasilkan semburan gas panas yang kuat, konsumsi bahan bakar yang tinggi, serta putaran yang sangat tinggi sehingga tidak cocok digunakan untuk transportasi darat khsusunya mobil.

C. Kekurangan Mesin Pembakaran Dalam

Di satu sisi, mesin pembakaran dalam adalah jenis mesin yang paling efisien, ringkas dan bertenaga, namun tetap saja memiliki kelemahan. Kelemahan utama dari sistem mesin motor pembakaran dalam adalah suaranya yang  bising, dan polusi dari gas buang yang dihasilkan. Masalah polusi ini dianggap sebagai masalah global yang serius, sehingga banya negara di dunia menerapkan kebijakan emisi rendah dari gas buang untuk kendaraan. Karena kekurangan ini juga, banyak produsen mobil yang mecoba untuk menciptakan suatu kendaraan hybrid yang ramah lingkungan, yang menggunakan motor listrik atau bahan bakar bio atau setidaknya menciptakan mesin yang paling rendah emisi dengan cara memaksimalkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

D. Awal Terciptanya Mesin Pembakaran Dalam

Mesin pembakaran (motor bensin dan disesel khususnya) seperti yang banyak kita kenal digunakan untuk mobil dan motor ini tidak serta merta ditemukan dan tercipta beigitu saja oleh seseorang, namun memiliki sejarah panjang yang saling diilhami oleh penemu-penemu sebelumnya. Sejak Leonardo Davinci tahun 1509 yang menggambarkan mesin kompresi hingga pada tahun 1893 di mana Rudolf Diesel (penemu mesin diesel) menerima paten mesin diesel dan kemudian tahun 1900 ia memperkenalkan mesin berbahan bakar biodiesel dari kacang pada pameran dunia. Dan pada tahun yang sama , Wilhelm Maybach merancang mesin untuk Daimler motor yang diperlukan untuk mesin mobil pertama yang bernama Daimle Mercedes.

Demikianlah pembahasan mengenai "Memahami Sistem Mesin Motor Pembakaran Dalam (Internal Combustion Engine)", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Pengertian, Ciri-ciri dan Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil

Tumbuhan dapat dibedakan atau dibagi menjadi dua macam, yaitu tmbuh-tumbuhan berbiji keping satu atau yang disebut dengan monokotil/monocotyledonae dan tumbuhan berbiji keping dua atau yang disebut juga dikotil/dicotyledonae. Ciri utama yang di pakai untuk mengelompokkan tumbuhan berbiji tertutup ialah sifat dan keadaan bijinya. Biji pada kelompok tumbuhan ini memiliki cadangan makanan yang disebut keeping biji (kotiledon). Keping biji ini sesungguhnya daun pemula sebagai pertumbuhan awal jika biji tumbuh.

A. Ciri-ciri Tumbuhan Dikotil

Tumbuhan dikotil (dicotyledonae) memiliki beberapa ciri-ciri antara lain sebagai berikut:

  • Keping biji berbelah dua
  • Berkas vaskuler (pembuluh angkut) pada batang bertipe kolateral terbuka (antara xilem dan floem terdapat kambium) dan tersusun melingkar dengan kedudukan xilem di sebelah dalam dan floem di sebelah luarnya. Sementara pada berkas vaskuler akarnya bertipe radial atau letak xilem dan floem bergantian menurut jari-jari lingkaran
  • Batang dan akar mempunyai kambium sehingga dapat terjadi pertumbuhan sekunder dan tentunya akan tumbuh membesar
  • Berakar tunggang dan bercabang-cabang dengan ruas batang yang tidak jelas
  • Tidak mempunyai pelindung ujung akar (koleoriza) dan pelindung ujung batang (koleoptil)
  • Bagian bunga terdiri atas kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari tersebut berjumlah 4 atau 5 atau kelipatannya.

B. Ciri-ciri Tumbuhan Monokotil

Tumbuhan monokotil (monocotyledonae) memiliki beberapa ciri-ciri antara lain sebagai berikut:


  • Keping biji tunggal atau satu
  • Memiliki berkas vaskuler (pembuluh angkut) yang terdapat di batang yang bertipe kolateral tertutup (antara xilem dengan floem tidak terdapat kambium). Letak dari xilem dan floem tersebar atau tidak teratur. Umumnya batang dan akar tidak memiliki kambium sehingga tidak dapat terjadi pertumbuhan sekunder dan tidak akan tumbuh membesar. Namun, ada juga tumbuhan monokotil yang berkambium, seperti sisal (Agave sisalana)
  • Umumnya batang tidak bercabang, memiliki rambut-rambut halus, dan ruas-ruas pada batang tampak jelas
  • Berakar serabut
  • Ujung akar dilindungi oleh koleoriza dan ujung batang dilindungi oleh koleoptil
  • Umumnya berdaun tunggal, kecuali pada kelompok xilem. Urat daun sejajar atau melengkung dan berpelepah daun
  • Bagian bunga terdiri atas kelompok bunga, mahkota bunga, benang sari tersebut berjumlah tiga atau kelipatan tiga

C. Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil

Berikut ini adalah perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil, perbedaan tumbuhan monokotil dengan dikotil adalah:

1. Bentuk akar 
- Monokotil : Melengkung atau sejajar
- Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun
- Monokotil : Melengung atau sejajar
- Dikotil : Menyirip atau menjari 

3. Kaliptrogen/tudung akar
- Monokotil : Ada tudung akar/kaliptra
- Dikotil : Tidak terdapat tudung akar

4. Jumlah keping biji atau kotiledon
- Monokotil : Satu buah keping biji saja
- Dikotil : Ada dua buah keping biji

5. Kandungan akar dan batang
- Monokotil : Tidak tedapat kambium
- Dikotil : Ada kambium

6. Jumlah kelopak bunga
- Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga
- Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang lembaga
- Monokotil : Ditemukan batang lembaga, / koleoptil dan akar lembaga/keleorhiza
- Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

8. Pertumbuhan akar dan batang
- Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
- Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

Tabel perbedaan Monokotil dan Dikotil

D. Perbedaan Pengelompokkan Pada Tumbuhan Monokotil dan Tumbuhan Dikotil

Tumbuhan monokotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:
  • Rumput-rumputan (Graminae), ex : jagung, padi
  • Pinang-pinangan (Palmae), ex : Kelapa, sagu
  • Pisang-pisangan (Musaceae), ex : pisang ambon, raja
  • Anggrek-anggrekkan (Orchidaceae), ex : anggrek, vanili
  • Jahe-jahean (Zingiberaceae), ex : jahe, kunyit
Tumbuhan dikotil dikelompokkan menjadi 5 suku, yaitu:
  • Jarak-jarakan (Euphorbiaceae), ex : jarak, ubi, karet
  • Polong-polongan (Leguminoceae), ex : pete, kacang
  • Terung-terungan (Solanaceae), ex : terong, cabe, tomat
  • Jambu-jambuan (Myrtaceae), ex jambu biji, jambu air
  • Komposite (Compositae), ex : bunga matahari
Demikianlah pembahasan mengenai "Pengertian, Ciri-ciri dan Perbedaan Tumbuhan Dikotil dan Monokotil", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Penjelasan Mengenai Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem

Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengolahan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaan dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Perlu kita ketahui konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian dan peanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Tujuannya adalah mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan keseimbangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan.

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya menjadi tanggung jawab pemerintah serta masyarakat. Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui beberapa kegiatan, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan yang merupakan satu proses alami berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk, pelestarian keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Berikut ini beberapa lokasi sumber daya alam hayati di indonesia yang telah diresmikan oleh pemerintah:

1. Hutan Lindung


Hutan lindung (protection forest) adalah kawasan hutan yang telah di tetapkan oleh pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu untuk dilindungi, agar fungsi-fungsi ekologisnya , terutama menyangkut tata air dan kesuburan tanah, tetap dapat berjalan dan dinikmati manfaatnya oleh masyarakat di sekitarnya. Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.  Hutan lindung bisa dalam bentuk cagar alam, taman nasional, suaka margasatwa, taman hutan raya, hutan wisata,dan wanawisata.

a. Cagar Alam

Cagar alam adalah suatu kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.Contoh kawasan yang dijadikan cagar alam di indonesia adalah cagar alam pananjung pangandaran di jawa barat, cagar alam nusakambangan barat dan cagar alam nusakambangan timur di jawa tengah.

Di indonesia, cagar alam adalah bagian dari kawasan konservasi (kawasan suaka alam), maka kegiatan wisata atau kegiatan lain yang bersifat komersial, tidak boleh di lakukan di dalam area cagar alam. Sebagaimana kawasan konservasi lainnya, untuk memasuki cagar alam diperlukan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). SIMAKSI bisa di peroleh di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Dengan dibangunnya cagar alam maka sumber daya alam berupa flora dan fauna dapat dilindungi dengan baik oleh negara.

b. Taman Nasional

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, parawisata dan rekreasi. Taman nasional merupakan salah satu jenis kawasan  konservasi karena dilindungi, biasanya oleh pemerintah pusat, dari perkembangan manusia dan polusi.

Menurut undang-undang nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, taman nasional di definisikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Saat ini terdapat 50 taman nasional di indonesia, yang pengelolaannya di bawah kementrian kehutanan republik indonesia. Enam di antaranya, nal Gunung Leuser di sumatera utara dan aceh, Taman Nasional Kerinci Seblat di jambi dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan, juga di termaksud Situ Warisan Dunia UNESCO yang tergabung sebagai warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera.

c. Suaka Margasatwa

Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Di tempat ini dapat dilakukan kegiatan untuk pemeliharaan dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

d. Taman Hutan Raya

Taman Hutan Raya (Tahura) adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, parawisata dan rekreasi.

e. Hutan Wisata

Hutan Wisata merupakan kawasan hutan yang dibina dan di pelihara secara khusus guna kepentingan pariwisata dan iwsata baru. Hutan wisata yang memiliki keindahan alam, kekayaan flora dan fauna maupun alamnya sendiri mempunyai corak khas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan rekreasi dan kebudayaan.

f. Wanawisata

Wanawisata merupakan kawasan hutan produksi yang dimanfaatkan sebagai objek wisata. Wanawisata bertujuan selain sebagai konservasi lahan dan hasil hutannya, juga sebagai pendukung objek wisata lain. Contoh wanawisata kedung ombo di jawa tengah.

2. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perikanan

Lautan adalah daerah yang mewakili ekosistem khas di lautan maupun perairan lainnya yang merupakan habitat alami yang memberikan tempat maupun perlindungan bagi perkembangan keaneka ragaman tumbuhan dan satwa yang ada. Contonya adalah taman laut bunaken di sulawesi utara.

3. Kebun Raya

Kebun raya adalah suatu kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ. Ada beberapa macam kawasan konservasi tumbuhan secara ex situ, namun kebun raya memiliki kekhasan tersendiri sebagaimana dapat dilihat pada definisi dan karakteristiknya. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah adanya sistem pendokumentasian pada koleksi tumbuhannya . Selain itu, kebun raya juga melakukan penelitian (tumbuhan di bidang taksonomi, pendayagunaan dan budidaya), melakukan pendidikan terhadap masyarakat tentang tumbuhan , lingkungan hidup dan pertamanan serta berfungsi sebagai tempat wisata lingkungan.

Demikianlah pembahasan mengenai "Penjelasan Mengenai Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Peran Keanekaragaman Hayati Dalam Kehidupan Manusia

Keanekaragaman hayati  adalah keberagaman tumbuhan, hewan dan makhluk hidup lain yang tumbuh hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu. Manusia selalu membutuhkan makhluk hidup lain, misalnya manusia akan membutuhkan pasangan hidup dari jenisnya, manusia juga sangat membutuhkan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan atau bahan tempat tinggalnya, dan masih banyak peranan tumbuhan dan hewan bagi kehidupan manusia.

Beranekaragam jenis tumbuhan dan hewan mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia, antara lain, sebagai sumber pangan, sumber sadang, bahan bangunan untuk tempat tinggal, sumber pendapatan, sumber plasma nutfah, sumber bahan obat-obatan, sumber keilmuan dan keindahan.

1. Sumber Pangan

Makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia adalah berasal yang diperoleh dari tanaman padi (Oryza sativa). Namun ada juga tempat yang makanan pokok penduduk adalah jagung, talas, singkiong, sagu atau ubi jalar. Indonesia kaya akan bahan makanan pokok dan juga tanaman penghasil buah dan sayuran yang diperkirakan terdapat 400 jenis tanaman yang menghasilkan buah, contohnya rambutan (Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), durian (Durio zibethinus), manggis (Garcinia mangostana), jeruk bali (Citrus maxima), matoa (Pometia pinnata), mangga (Mangifera indica) dan markisa (Passoflora edulis). Sedangkan tanaman penghasil sayuran sekitar 370 jenis, seperti kacang panjang, kangkung, terung, kol, seledri, sawi, bayam, buncis dan bawang kucau (Allium fistulosum).


Ada sekitar 70 jenis tanaman berumbi, misalnya kunyit kuning, temulawak, lobak, ubi jalar, lengkuas, wortel, bawang putih, talas, bawang dan singkong. Indonesia dari dulu hingga sekarang terkenal akan rempah-rempah yang melimpah yaitu sekitar 55 jenis, seperti ketumbar (Coriadrum sativum), merica (Piper nigrum), pala (Myristicia fragrans), dan cengkih (Eugenia aromatica).

Sumber makanan juga berasal dari aneka ragaman hewan darat, air tawar dan juga air laut. Contohnya kambing, ayam, burung, sapi, ikan lele, udang, kepiting, belut, dan rajungan.

2. Sumber Sandang

Sandang (pakaian) terbuat dari kain, kain terdiri dari tenunan benang dan benang sebagian besar berasal dari kapas. Pohon kapas sering dijadikan bahan utama untuk membuat pakaian. Pakaian tradisional dan aksesorisnya juga kebanyakan berasal dari keanekaragaman hayati seperti bulu merak, tulang, bulu burung, dan kulit kayu. Dedaunan juga sering digunakan sebagai pakaian pada orang pedalaman. Saat ini, kulit hewan sering dijadikan bahan pembuatan tas, dompet dan ikat pinggang. Bahkan bulu domba dapat dijadikan bahan pembuatan kain wol.

3. Sumber Bahan Bangunan dan Alat-alat Rumah Tangga

Coba amati pintu atau jendela serta beberapa perabotan di rumah anda! Sebagian besar komponen barang-barang itu terbuat dari bahan besi, plastik atau kayu. Bahan kayu berasal dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga antara lain jati, mahoni, sonokeling, bangkirai, sengon, kruing, ulin, kelapa dan bambu.

4. Sumber Pendapatan

Saat ini banyak orang yang berwirausaha dengan mengembangkan usaha di bidang keanekaragaman hayati, baik hewan mapun tumbuhan. Berbagai hewan dikembangkan manusia sebagai sumber pendapatan, misalnya dengan memelihara ayam petelur, pedaging, sapi perah, usaha perikanan air tawar dan sebagainya. Selain hewan, banyak pula orang yang menggantungkan sumber pendapatannya dari usaha pembudidayaan tanaman, seperti tanaman buah-buahan, sayuran, tanaman hias, tanaman perkebunan dan lain-lain.

Selain itu keanekaragaman hayati yang tinggi dapat pula dijadikan masyarakat sebagai sumber pendapatan misalnya sebagai bahan bangunan dan alat-alat rumah tangga, bahan baku industri dan rempah-rempah. Sumber pendapatan manusia misalnya jati dan mahoni dapat dijadikan sebagai bahan baku industri ukir; teh dan kopi sebagai bahan baku industri minuman; kenanga dan nilam sebagai bahan baku industri minyak wangi; rempah-rempah sebagai bahan baku industri makanan; dan sebagainya.

5. Sumber Plasma Nutfah

Plasma nutfah atau gen merupakan substansi atau sumber sifat keturunan makhluk hidup yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan jenis unggul baru. Di indonesia terdapat keanekaragaman hayati yang tinggi, di antaranya banyak jenis tumbuhan maupun hewan yang memiliki sifat-sifat unggul seperti perakarannya kuat, tahan terhadap hama dan penyakit, tahan terhadap kekeringan, maupun tahan terhadap air asin.

Unsur utama dari pengelolaan plasma nutfah sendiri adalah pelestarian secara in situ dan ex situ dari plasma nutfah. Sedangkan fokus dari pengelolaan plasma nutfah adalah melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkannya secara berkelanjutan, baik pada ekosistem darat maupun laut, kawasan agroekosistem dan kawasan produksi, serta program konservasi ex situ.

Kekayaan plasma nutfah yang terdapat di alam indonesia memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam industri pertanian. Oleh sebab itu, saat ini plasma nutfah banyak di kaji dan dikoleksi dalam rangka meningkatkan produksi pertanian dan penyediaan pangan. Hal ini dilakukan karena plasma nutfah merupakan sumber gen yang berguna bagi perbaikan tanaman seperti gen untuk ketahanan penyakit, serangga, gulma dan juga gen untuk ketahanan terhadap cekaman lingkungan abiotik yang kurang menguntungkan seperti kekeringan. Selain itu plasma nutfah juga merupakan sumber gen yang dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hasil tanaman seperti kandungan nutrisi yang lebih baik.

Di masa depan, plasma nutfah akan lebih penting peranannya dalam pembangunan mengingat kebutuhan dunia akan bahan-bahan hayati untuk obat, varietas baru tanaman pertanian dan ternak, proses industri dan pengolahan pangan semakin meningkat.

6. Sumber Keilmuan

Telah disebutkan sebelumnya bahwa kehidupan manusia sangat tergantung dari tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikembangkan manusia melalui usaha pertanian, sedangkan hewan dikembangkan melalui kegiatan peternakan. Salah satu cara yang dilakukan manusia untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan mengupayakan perkembangbiakan secara vegetatif buatan seperti mencangkok, menempel, menyambung, merunduk dan stek.

Jika kita ingin mencangkok suatu tanaman, terlebih dahulu kita harus menguasai ilmu pengetahuan tentang morfologi dan anatomi tumbuhan karena tidak semua jenis tanaman dapat di cangkok. Ciri-ciri tanaman yang bisa di cangkok antara lain batang berkambium, kuat, bagus, subur, dan tidak terserang penyakit.

Percabangan yang akan dicangkok harus lurus dan tegak serta idealnya memiliki garis tengah sekitar 2-3 cm. Kelebihan mengembangbiakkan tanaman dengan cara mencangkok yaitu menghasilkan keturunan yang mempunyai sifat sama dengan sifat induknya, lebih cepat bereproduksi, dan perkembangbiakkannya tidak tergantung pada buah atau biji induknya.

7. Sumber Bahan Obat-obatan

Indonesia mempunyai sekitar 30.000 spesies tumbuhan, 940 spesies di antaranya adalah tanaman obat serta juga sekitar 250 spesies tanaman obat yang digunakan di dalam suatu industri obat herbal lokal. Berikut ini adalah macam-macam tanaman obat dan juga kegunaannya.
  1. Kina (chincona calisaya, chincona officianlis), kulitnya itu mengandung suatu alkoloid kina (quinine) untuk dapat mengobati malaria.
  2. Madu dari lebah juga dapat dimanfaatkan ialah sebagai peningkatan daya tahan tubuh
  3. Mengkudu/pace (morind citrifolia) ialah untuk menurunkan tekanan darah tinggi
  4. Buah merah (pandanus conoideus) juga dimanfaatkan ialah sebagai obat untuk dapat mengobati kanker (tumor), kolesterol tinggi, serta diabetes.
  1. Hewan juga dapat dimanfaatkan ialah sebagai obat-obatan, contohnya ialah ular, bagian daging serta lemaknya itu dipercaya bisa mengobati penyakit kulit (gatal-gatal)

8. Sumber Keindahan

Yang terakhir adalah sebagai sumber keindahan. Kita sering melihat tanaman hias, seperti anggrek, mawar, aneka jenis bonsai, serta tanaman gelombang cinta dan anturium. Tanaman-tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai hiasan karena dapat menjadikan pemandangan sekitar terlihat indah dan asri. Selain tanaman yang dapat dimanfaatkan keindahannya misalnya burung beo dapat dinikmati keindahan suaranya dan burung merak serta burung cenderawasih dinikmati keindahan warna tubuhnya.

Demikianlah pembahasan mengenai "Peran Keanekaragaman Hayati Dalam Kehidupan Manusia", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Penjelasan Tentang Tumbuhan Thallophyta (Hepaticae dan Musci)

Thallophyta adalah tumbuhan yang tidak memiliki akar, batang dan daun yang sebenarnya. Tumbuhan yang masuk dalam kelompok ini adalah tumbuhan lumut (Bryophyta). Ciri-ciri tumbuhan lumut adalah tidak memiliki akar sejati, memiliki sel-sel yang menyerupai rambut yang berperan menyerap air dan zat hara pengganti akar-akar ini disebut akar semu (Rizoid). Rizoid ini yang akan melekatkan lumut pada tempat tinggalnya. Secara umum lumut tidak memiliki daun dan batang sebenarnya, namun pada lumut daun sudah terlihat batang dan daun yang sederhana walaupun tidak ada jaringan pengangkutnya.

Lumut sangat suka hidup di tempat yang lembap seperti tembok, genteng maupun kulit pohon. Lumut juga dapat bertahan hiduppada tempat yang hanya mengandung sedikit unsur hara selama ia tetap lembap. Hal ini yang menyebabkan lumut dijuluki tumbuhan kosmopolitan karena memiliki sifat toleran terhadap lingkungan yang tinggi.

Talus tumbuhan lumut berwarna hijau karena terdapat klorofil di dalamnya sehingga ia dapat melakukan sintesis terhadap senyawa organik (fotosintesis). Hal ini menyebabkan lumut termasuk autotrof. Alat perkembangbiakan lumut adalah spora.

Talus pada lumut dewasa akan membentuk sporangium yang berperan untuk menghasilkan spora. Sporangium berasal dari zogot yang berkembang dari peleburan antara spermatozoid dan ovum. Pembentukan spora terjadi secara miosis pada kotak spora. Kotak spora yang telah masak akan pecah akibat gerak higroskopik ia akan keluar dan terbang bebas bersama angin. Bila spora tersebut jatuh di tempat yang tepat maka ia akan tumbuh menjadi protonema di mana ia adalah cikal bakal tumbuhan lumut yang baru.

Metagenesis adalah proses pergiliran keturunan yang juga di alami oleh lumut di mana ia mengalami generasi gametofit dan generasi sporofit. Ternyata lumut tidak hanya berkembangbiak secara seksual tetapi juga secara aseksual melalui tunas fase gametofit bagian talus lumut memiliki arkegonium (betina) yang menghasilkan ovum, sedangkan bagian anteridium (jantan) menghasilkan spermatozoid. Pada fase sporofit zigot akan menghasilkan sporongium untuk membentuk spora. Berikut ini adalah gambar bagan reproduksi lumut.


Generasi gametofit diawali dari spora yang terbentuk dari pembelahan meiosis. Spora yang dihasilkan bersifat haploid baik pada arkegonium maupun pada anteridium. Ketika dua gamet yang dihasilkannya tertemu maka akan terbentuk zigot, disinilah awal mulai generasi sporofit. Zigot akan memiliki kromosil yang diploid, sementara sel yang di produksi melalui proses mitosis adalah diploid. Sel-sel yang mengalami meiosis yang haploid akan membentuk generasi gametofit.

Tumbuhan lumut terdiri atas dua kelas, yaitu kelas hepaticae (lumut hati) dan kelas musci (lumut daun). Keduanya berbeda bentuk susunan tubuh dan perkembangan gametangium (lumut hati) serta sporogoniumnya.

1. Kelas Hepaticae

Talusnya pipih dorsiventral, berwarna hijau, agak berdaging, bercabang menggarpu, bagian ventral terdapat rizoid, dan sisik-sisik ventral. Hidup di tanah lembap,bebatuan dan batang pohon. Kelas ini mencangkup tiga ordo, yaitu Anthocerotales, Marchantiales dan jungermaniales.

a. Ordo Anthocerotales (lumut tanduk)

Terdiri dari satu familia saja, yakni familia Anthocerotaceae. Gametofit memiliki talus berbentuk cakram dengan tepi bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan rizoid. Lumut ini memiliki talus sederhana, sel-selnya memiliki satu kloroplas seperti pada alga. Di sisi bawah talus terdapat stoma yang hampir selalu tersisi lendir. Anteridium terkumpul dalam suatu lekukan di sisi atas talus, demikian pula arkegoniumnya. Sporangium tidak bertangkai, berbentuk seperti tanduk dengan panjang 10 sampai 15 cm.

Contoh spesies pada ordo ini anthoceros laevis dan anthoceros fusiformis.


b. Ordo Marchantiales

Talus berbentuk pita, berdaging, berwarna hijau, lebar sekitar 2 cm, bercabang menggarpu dengan rusuk tengah yang tidak begitu jelas. Di sisi bawah talus terdapat rizoid dan sel-sel yang menyerupai daun yang dinamakan sisik ventral. Di sisi atas talus terdapat kuncup, sebagai alat pembiak vegetatif. Gametangium di dukung oleh tangkai yang tumbuh tegak, berumah dua, jadi arkegonium dan anteridium terdapat pada talus terpisah.

Tangkai pendukung arkegonium dinamakan arkegonifor dan tangkai pendukung anteridium dinamakan anteridiofor. Arkegonium menghasilkan sel telur, sedangkan anteridium menghasilkan spermatozoid. Dengan perantara air spermatozoid membuahi ovum membentuk zigot. Jadi pembuahan lumut kebanyakan terjadi saat musim penghujan. Ordo marchantiales terbagi menjadi dua famili, yaitu:

- Famil i : Marchantiaceae
  Spesies : Marchantia polymorpha, Marchantia geminata.
- Familia : Ricciaceae
  Spesies : Riccia fluitans, Riccia nutans.

c. Ordo Jungermaniales

Umumnya talusnya kecil, berbentuk pita kecil dengan percabangan menggarpu menyerupai marchantia. Hidup di atas tanah, menempel (epifit) pada batang pohon atau pada daun pohon-pohon di hutan. Kebanyakan telah memiliki bagian seperti batang dengan dua baris semacam daun-daun kecil yang letaknya agak miring. Ordo jungermaniales terbagi menjadi dua famili, yaitu:

- Famili  : Acroynaceae
  Spesies : Plagiochila asplenoides. Spesies ini tumbuh di daerah tropis
- Famili  : Anacrogynaceae
  Spesies : Pnellia epiphylla blasic pusilla.

2. Kelas Musci (lumut daun)

Dari struktur tubuhnya, kelas musci lebih maju dibandingkan hepaticae karena ia telah memiliki bentuk akar, batang dan daun yang sederhana, walaupun perakaran tetap rizoid. Lumut daun suka hidup pada batu cadas, tanah yang lembap, air dan di batang pohon.

Alat kelaminnya terletak di ujung cabang lumut daun serta ada yang berumuran satu maupun berumah dua. Ukuran talus lumut yang jantan lebih kecil, ketika lumut telah menghasilkan daun maka anteridium akan terbentuk.

Adapun spora yang diproduksi oleh lumut jantan lebih kecil dibandingkan spora betina. Kelas musci dibagi lagi menjadi 3 ordo, yaitu Andreales, Sphagnales dan Bryales.

a. Ordo Andreales

Ordo andreales hanya terdiri satu famili, yakni familia Andreaceae, dengan satu marga Andreaea. Protonema berbentuk seperti pita bercabang-cabang. Kapsul spora mula-mula diselubungi kaliptra berbentuk seperti tutup kepala bayi. Kolumela diselubungi jaringan sporogen. Contoh spesiesnya adalah Andreaea petrophila, Andreaea rupestris.

b. Ordo Sphagnales

Ordo sphagnales hanya terdiri satu famili, yakni famili sphagnaceae dengan satu marga sphagnum. Kebanyakan hidup di rawa-rawa membentuk rumput atau bantalan. Lumut yang telah mati akan membentuk tanah gambut. Protonema berbentuk seperti daun kecil, tepinya bertoreh, terdiri atas selapis sel. Contoh spesiesnya adalah Sphagnum fumbriatum (lumut gambut), sphagnum spuarrosum dan Sphagnum acutifolium.

c. Ordo Bryales

Ordo Bryales sebagian besar berupa lumut daun. Kapsul spora telah mengalami diferensiasi yang maju. Sporangium bertangkai yang dinamakan seta di mana pangkalnya tertanam dalam jaringan tumbuhan gametofitnya.

Bagian atas seta dinamakan apofisis. Di dalam kapsul spora terdapat ruang-ruang spora yang dipisahkan oleh jaringan kolumela. Bagian atas dinding kapsul spora terdapat tutup (operculum), yang tepinya terdapat lingkaran sempit disebut cincin. Sel-sel cincin ini mengandung lendir sehingga dapat mengembang dan menyebabkan terbukanya operculum. Di bawah operculum terdapat gigi-gigi peristom. Ordo Bryales meliputi beberapa famili polytritrichaceae. Contoh spesiesnya adalah Polytrichum communae, Pogonatum cirrhatum dan Shapagnum squarrosum.
 
Demikianlah pembahasan mengenai "Penjelasan Tentang Tumbuhan Thallophyta (Hepaticae dan Musci)", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Penjelasan, Ciri, Reprofuksi dan Klasifikasi Tumbuhan Paku (pteridophyta)

   Tumbuhan dengan akar, batang dan daun sejati disebut tumbuhan berkormus (kormophyta). Atas dasar ciri-ciri itulah maka tumbuhan berbiji disebut (kormophyta berbiji). Selain spermatophyta, tumbuhan paku (pteridophyta) juga telah menunjukkan ciri-ciri mempunyai akar, batang dan daun sejati, terutama golongan paku pohon. Jadi, tumbuhan paku dapat dimasukkan ke dalam kelompok kormophyta. Dengan spora yang dibentuk dalam kotak spora, tumbuhan paku dijuluki sebagai kormophyta berspora. Kormophyta dapat dibedakan menjadi tumbuhan paku dan tumbuhan berbiji.

Tumbuhan paku (pteridophyta)

A. Ciri-ciri Tumbuhan Paku (pteridophyta)

Berikut ini beberapa ciri-ciri tumbuhan paku, diantaranya meliputi:
  • Organisme multiseluler dan eukariotik
  • Sudah memiliki akar, daun dan batang sejati, sehingga disebut kormophyta berspora.

 a. Struktur Akar

Akar tumbuhan paku berbentuk serabut dengan kaliptra pada ujungnya. Jaringan akarnya terdiri dari epidermis, korteks dan silinder pusat.

b. Struktur Batang

Serupa halnya dengan jaringan akarnya, struktur batang tumbuhan paku juga terdiri dari epidermis, korteks dan silinder pusat. Pada silinder pusat tersebut terdpata berkas pembuluh angkut, yaitu xilem dan floem. Berkas pembuluh ini berperan dalam proses fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.

c. Struktur Daun

Struktur daun tumbuhan paku terdiri atas jaringan epidermis, mesofil, dan pembuluh angkut. Sedangkan jenis tumbuhan paku sendiri terdiri atas berbagai macam, meliputi:

Jika ditinjau dari ukuran daun, maka daun tumbuhan paku ada yang berukuran kecil (mikrofil) dan berukuran besar (makrofil). Daun mikrofil tidak bertangkai dan tidak bertulang, serta berbentuk rambut atau sisik. Sedangkan daun makrofil bertangkai, bertulang daun, jaringan tiang, bunga karang dan juga memiliki mesofil dengan stomata, serta berbentuk.

Jika ditinjau dari fungsinya, daun tumbuhan paku ada yang menghasilkan spora (sporofil) dan tidak menghasilkan spora (tropofil). Daun tropofil disebut sebagai daun steril dan memiliki klorofil sehingga berperan dalam proses fotosintesis dalam menghasilkan glukosa. Sedangkan daun sporofil disebut sebagai daun fertil karena menghasilkan spora sebagai alat perkembangbiakan.
  • Umumnya habitat tumbuhan paku pada tempat yang lembap, bisa di darat, perairan, ataupun menempel.
  • Tumbuhan paku dapat bereproduksi secara seksual maupun aseksual.
  • Tumbuhan paku bersifat fotoautotrof, karena memiliki klorofil sehingga dapat berlangsungnya proses fotosintesis.
  • Dalam siklus hidup tumbuhan paku, pada fase metagenesis terdapat fase sporofit yaitu tumbuhan paku sendiri. Fase sporofit pada metagenesis memiliki sifat yang lebih dominan dibandingkan fase gamtofitnya.

B. Reproduksi Tumbuhan Paku (pteridophyta)

Seperti halnya lumut, tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan atau metagenesis. Gametofitnya dinamakan protalium yang merupakan hasil perkecambahan spora haploid. Bentuk protalium menyerupai jantung, berwarna hijau, melekat pada substrat dengan menggunakan rizoid, ukurannya hanya beberapa sentimeter saja.

Protalium menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran yang bermacam-macam. Generasi sporofit berupa tumbuhan paku. Dalam suatu protalium akan dibentuk arkegonium (badan penghasil ovum) dan anteridium (badan penghasil spermatozoid). Ovum dan spermatozoid dengan media air akan bertemu, lalu melebur menjadi zigot.
Daur hidup tumbuhan paku-pakuan

Selanjutnya zigot akan tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan paku yang merupakan sporofit. Pada daun fertil dibentuk sporangium (kotak spora), di dalamnya terdapat sel induk spora yang akan membelah secara meiosis membentuk spora haploid. Akhirnya sporangium pecah dan spora-spora keluar. Jika jatuh di tempat yang sesuai spora akan berkecambah membentuk protalium. Dengan demikian siklus hidup berulang lagi.

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan kormus, batang berpembuluh, daunnya terdiri daun steril (trofofit) dan daun fertil (sporofit). Batangnya berupa rizoma atau batang berkayu (pada paku pohon). Tumbuhan paku menghasilkan spora, mengalami metagenesis, generasi sporofit berumur panjang, gametofit berupa protalium yang berukuran kecil dan berumur pendek. Menurut spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:

1) Tumbuhan paku homospor

Tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama tidak dapat di bedakan jenisnya antara spora jantan atau spora betina. Contohnya Lycopodium clavatum (paku kawat).
2) Tumbuhan paku heterospor

Tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk, ukuran dan jenisnya berbeda yaitu mikrospora (spora berukuran kecil, berjenis jantan), dan makrospora (spora berukuran besar, dan berjenis betina). Contohnya Selaginella sp (paku rane), marsilea sp (semanggi).
3) Tumbuhan paku peralihan

Tumbuhan paku yang menghasilkan spora dengan bentuk dan ukuran sama, namun terdapat spora jantan dan spora betina. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).

C. Klasifikasi Tumbuhan Paku (pteridophyta)

tumbuhan paku (pteridophyta) terdiri dari empat kelas, yakni kelas Psilophytinae, Equisetinae, Lycopodinae, dan Filicinae.

Klasifikasi Tumbuhan paku (pteridophyta)

1) Kelas Psilophytinae (paku purba)

Psilophytinae mencangkup tumbuhan paku yang masih primitif, bahkan sebagian besar jenisnya telah punah. Keprimitifan ciri ditunjukkan dengan adanya daun kecil-kecil (mikrofil) yang belum terdiferensiasi atau tanpa daun sama sekali yang disebut juga paku telanjang.

Ada pula jenis paku yang belum memiliki akar dan belum di ketahui gamtofitnya. Spora yang dihasilkan jenis paku tersebut mempunyai bentuk dan ukuran yang sama (paku homospor). Paku purba dibedakan menjadi dua ordo, yaitu psilophytales dan psilotales.

a) Ordo Psilophytales (paku telanjang)

Berupa terna, belum memiliki akar (hanya rizoid), tida berdaun atau berdaun kecil-kecil (mikrofil), batang telah memiliki pembuluh

Famili : Rhyniaceae
Spesies : Rhynia major, Zosterophylum australianum

b) Ordo Psilotales

Berupa terna kecil, rendah belum memiliki akar (hanya rizoid), bercabang menggarpu, mikrofil seperti sisik-sisik pada batang. Protalium telah ada, hanya berukuran beberapa sentimeter saja.

Falimi : Psilotaceae
Spesies : Psilotum nudum, terdapat di jawa. Psilotum triquetum, terdapat di daerah tropik.

2) Kelas Equisentinae (paku ekor kuda)

Brupa terna, menyukai tempat-tempat lembap, batang dengan percabangan berkarang dan nyata ruas-ruas batangnya. Daun kecil-kecil sperti rambut tersusun berkarang. Sporofit berbentuk seperti gada atau kerucut pada ujung batang. Hanya terdiri atas satu ordo, yaitu ordo Equisetales. Hidup di darat atau di rawa-rawa, memiliki semacam ring-pang yang merayap dalam tanah, batang berpembuluh bertipe kolateral.

Famili : Equisetaceae
Spesies : Equisetum debile (paku ekor kuda), di temukan di indonesia. Equisetum arvense, dan Equisetum pretense.

3) Kelas Lycopodinae (paku kawat)

Batang bercabang, tumbuh tegak atau menjalar dengan percabangan menjulang ke atas. Berkas pengangkut masih sederhana. Daun seperti jarum, beberapa jenis telah menunjukkan diferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Terdiri atas 4 ordo, yakni ordo Lycopodiales, Selaginellales, Lepidodendrales, dan Isoetales.

1) Ordo Lycopodiales

Berupa terna, batang memiliki berkas pengangkut sederhana. Daun seperti jarum dianggap homolog dengan mikrofil dengan satu tulang daun tidak bercabang menggarpu, sporofit berbentuk segitiga sama sisi.

Familia : Lycopodiaceae
Spesies : Lycopodium cernum, sering di pakai dalam pembuatan karangan bunga. Lycopodium clavatum, serbuk spora sebagai pelapis pil agar tidak lengket.

2) Ordo selaginellales

Sebagian berbatang tegak, tapi juga ada yang berbatang mendatar, tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Daun ada dua macam, mikrofil dan makrofil, belum mengalami diferensiasi membentuk jaringan pagar dan jaringan spons. Akar tumbuh dari bagian batang yang tidak berdaun. Bersifat heterospor, protalium telah mereduksi, berukuran sangat kecil. Contohnya spesies Selaginella wildenowii, Selaginella caudate, selaginella plana.

3) Ordo Lepidodendrales

Paku yang tergolong ordo Lepidodendrales sekarang telah punah. Ordo Lepidodendrales berbentuk pohon yang mencapai tinggi sampai 30 m dengan diameter batang 2 m. Daun menyerupai jarum, mempunyai lidah-lidah. Dalam daun terdapat berkas pengangkut yang sederhana. Batang telah memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder dan terdapat meristem. Ordo ini terdiri atas dua famili, yaitu

Famili : Sigillariaceae
Spesies : Silillaria elegans gigilaria micaudi

Famili : Lepidodendraceae
Spesies : Lepidodendron visculare, Lepidodenstron aculeatum, dan Lepidaostrobus major

4) Ordo Isoetales

Ordo Isoetales berupa terna, sebagian hidup pada tanah, sebagian hidup tenggelang dalam air. Batang seperti umbi, jarang sekali bercabang menggarpu. Pada bagian atas batang terdapat daun-daun yang berujung lancip yang panjangnya mencapai 1 cm. Daun-daun kebanyakan sporofit dengan satu sporangium. Hanya daun yang letaknya paling dala yang steril. Daun yang letaknya lebih dala merupakan mikrosporofi. 

Isoctales terdiri atas satu famili, yaitu:
Famili  : Isoctaceae
Spesies :  Isoctes lacustris, Isoctes duvieri

4) Kelas Filicinae

Kelas Filicinae merupakan kelompok tumbuhan paku dalam pengertian sehari-hari. Menyukai habitat yang teduh dan lembap (higrofit). Berdaun besar (makrofit) dan bertangkai dengan tulang-tulang daun. Daun yang masih muda menggulung pada ujungnya. Banyak di tanam sebagai tanaman hias, misalnya paku tanduk rusa (platycerium bifurcatum), suplir (adiantum cuneatum), atau sebagai tanaman obat, seperti dryopteris filixmas.

Dilihat dari lingkungan hidupnya, tumbuhan paku dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yakni paku tanah, paku air dan paku epifit. Kelas Filincinae meliputi tiga sub kelas, yatu Eusporangiatae, Leptosporangiatae, dan Hydropterides.

a) Subkelas Eusporangiatae

Kebanyakan berupa terna, protalium di bawah tanah tidak berwarna, atau di atas tanah berwarna hijau. Protalium selalu ditumbuhi cendawan endofitik. Sporangium berdiniding tebal dan kuat dengan spora-spora yang sama besar. Subkelas Eusporangiatae terdiri dua ordo, yaitu Ophioglossales dan Marattiales.

* Ordo Ophioglossales

Meliputi tumbuhan paku berbatang pendek dalam tanah. Daun asimilasi dan daun sporofit jelas kelihatan, berbentuk malai atau bulir keluar dari tangkai, dari pangkal, dari tengah, atau dari tepi daun steril. Sporangium sama besar (homospor), bulat, tanpa annulus, berdinding kuat. Dalam mendapatkan makanan Ophioglossales bersimbiosis dengan mikoriza. Dari familia Ophioglossales contohnya Ophioglossum vulgatum, Botrycium lunaria, terdapat di eropa Ophioglossum reticulum, terdapat di indonesia.

*Ordo Marattiales

Tumbuhan paku kelompok ini berdaun amat besar, menyirip ganda sampai beberapa kali. Sporangium berdinding tebal, tanpa annulus, terdapat di sisi bawah daun, umumnya homospor. Sporangium berlekatan membentuk sinangium. Ordo ini hanya memiliki satu famili, yaitu Marattiaceae.

Contoh spesies : Christensenia aesculifolia, daun menjari, beranak daun , sinangium berbentuk cincin pada sisi bawah daun.

Marattia fraxinea, daun dengan panjang 2 meter, menyirip ganda, pada pangkal tangkai terdapat duri yang merupakan modifikasi daun penumpu. Angiopteris evecta (paku kedondong), paku besar, daun panjangnya mencapai 2-5 meter, menyirip ganda 2-4 meter, anak daun menyerupai daun kedondong.

b) Subkelas Leptosporangiatae

Tumbuhan paku subkelas ini beranggotakan sekitar 90% dari total genus dala kelas filicinae, yang tersebar di seluruh muka bumi. Paling banyak terdapat di daerah tropis, mulai jenis paku terkecil (berukuran beberapa cm) sampai paku pohon. Yang berupa paku pohon, biasanya batang tanpa kambium, kekuatan batang berasal dari rangkaian berkas pengangkut yang tersusun konsentris. Kebanyakan berupa terna dengan rimpang tubuh mendatar atau sedikit tegak, jarang bercabang. Daun muda selalu menggulung karena pertumbuhan sel-sel pada sisi bawah daun yang lebih cepat.

Pertumbuhan apikal hampir tidak terbatas, anatomi daun telah menyerupai spermatophyta dengan diferensiasi, adanya diferensiasi membentuk jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Tulang daun bercabang-cabang dengan berbagai macam pola sebagai salah satu dasar klasifikasi. Kadang-kadang sebagian daun tertutup oleh semacam sisik yang dinamakan palea. Umumnya sporofil mempunyai bentuk yang sama dengan trofofil, sporangium terdapat di sisi bawah daun.

Sporangium terkumpul menjadi sorus yang bentuknya bermacam-macam. Sporangium muncul dari penonjolan jaringan daun yang dinamakan plasenta atau reseptakulum. Sebelum masak, sorus tertutup oleh selaput yang dinamakan indusium. Sistem pertulangan daun, susunan sporangium, bentuk dan letak sorus, ada tidaknya indusium merupakan ciri pengenal yang penting dan di pakai sebagai dasar klasifikasi. Semua paku Leposporangiatae bersifat homospor. Protalium berukuran beberapa cm saja dengan umum terbatas.

c) Subkelas Hydropterides

Subkelas ini beranggotakan tumbuhan paku yang hidup di air. Umumnya geterospor, menghasilkan makrospora. Badan yang mengandung sporangium dinamakan sporokarpium. Hydropterides meliputi dua ordo, yaitu ordo salviniaceae dan marsileaceae.

*Ordo Salviniaceae, contoh spesies:
- Salvinia natas, paku air yang mengapung, terdapat di asia eropa
- Azolla pinnata, tumbuhan kecil, lunak, bercabang-cabang, terapung di air. Daun yang terapung berfungsi untuk asimilasi, di dalamnya terdapat ruangan-ruangan berisi koloni anabaena azollae, sejenis alga biru yang dapat mengikat nitrogen udara.

* Suku Marsileaceae, contoh spesies:
- Marsilea crenata (semanggi), hidup di air, berakar dalam tanah, batang merayap, daun bertangkai panjang dengan empat helai anak daun, di manfaatkan sebagai sayuran.

Menurut habitatnya tumbuhan paku dikelompokkan menjadi paku tanah, paku air, dan paku pohon.

Demikianlah pembahasan mengenai "Penjelasan, Ciri, Reproduksi dan Klasifikasi Tumbuhan Paku (pteridophyta)", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Penjelasan Spermatophyta, Gymnospermae dan Angiospermae

   Pada materi sebelumnya kita telah membahas tentang tumbuhan paku (pteridophyta), yang merupakan bagian dari tumbuhan dengan akar, batang dan daun sejati yang disebut tumbuhan berkormus (kormophyta). Sekarang mari kita kita pelajari tentang materi tumbuhan berbiji (spermatophyta).


Dibandingkan dengan lumut dan tumbuhan paku, tumbuhan berbiji (spermatophyta) merupakan tumbuhan yang paling maju. Ciri utama spermatophyta adalah menghasilkan biji sebagai alat reproduksi generatif. Ciri inilah yang tidak ditemukan  pada lumut maupun tumbuhan paku. Kelengkapan organnya sekilas spermatophyta setingkat dengan pteridophyta karena keduanya sudah memiliki akar, batang, daun yang sebenarnya. Spermatophyta disebut juga anthophyta, yang artinya tumbuhan berbunga.

Dalam klasifikasi divisio spermatophyta dikelompokkan menjadi dua sub divisio, yakni sub divisio gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka) dan angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup). Keduanya berbeda dalam hal letak bakal biji terhadap mengasporofil, sedangkan pada angiospermae bakal biji berbeda di dalam struktur yang tertutup, di dalam daun buah yang disebut karpela.

A. Gymnospermae

a. Pengertian Gymnospermae

Istilah gymnospermae berasal dari bahasa yunani, gymnos berarti telanjang dan sperma berarti biji. Gymnospermae merupakan tumbuhan yang serbuk sarinya langsung jatuh pada bakal biji (biji yang belum terbuahi bukan kepala putik seperti pada tumbuhan bunga) dan bijinya telanjang (yaitu tidak tertutup dalam buah). Jadi, batasan gymnospermae adalah semua tumbuhan dengan biji tanpa buah. Sebagai contoh, gymnospermae termasuk Ginko, Cycad, Conifer dan anggota Gnetofit (yaitu Ephedra dan Gnetum).

Gymnospermae dicirikan dengan tumbuhan yang biasanya membentuk pohon berkayu atau perdu, tetapi beberapa jenis mirip liana. Sebagian besar gymnospermae, tidak ada pembuluh pada xylemnya  dengan pengecualian pada gnetophyta. Dalam anggapan ini, gymnospermae mirip tumbuhan vaskuler tidak berbiji dan angioperma primitif. Mengingat gymnospermae yang hidup secara relatif kecil (sekitar 720 jenis dalam 65 marga), tumbuhan ini sangat beraneka ragam dalam struktur reproduksinya dan tipe daun. Strobili mikrospongaria mungkin tersusun secara longgar dengan ribuan mikrosporangia, terkumpul menjadi untaian banyak atau seperti bunga. Tipe daun berkisar dari tunggal, helaian pipih sampai bentuk jarum, daun majemuk mirip ental dan sangat tereduksi seperti daun Equisetum.

Gymnospermae mirip dengan angiospermae pada ciri tidak di butuhkannya air oleh sperma untuk berenang mencapai sel telur. Hanya Cycad dan pohon Ginko yang mempunyai sperma berflagel, tetapi tumbuhan ini dan tumbuhan biji lainnya harus diserbuki melalui angin, hewan atau air. Ini berarti gerakan gamet jantan dan gamet betina dalam tumbuhan berbiji diandalkan pada pengangkutan di udara bukan pada pengangkutan air. Akibatnya sebagian besar gymnospermae menghasilkan serbuk sari dalam jumlah yang banyak. Sebagai contoh, tiap pohon pinus menghasilkan 1-2 juta serbuk sari. Demikian pula hutan conifer di swedia yang besar sekali, pada setiap musim semi dapat menghasilkan kurang lebih 75.000 ton serbuk sari.

Perbedaan sangat mencolok di antara gymnospermae dengan tumbuhan lain meliputi serbuk sari dan biji serta organ yang mengandungnya. Ciri-ciri ini sering berbeda secara signifikan dengan organ yang diperbandingkan dari tumbuhan berbunga.

  b. Serbuk Sari Gymnosperma

Walaupun serbuk sari berkembang  dengan reduksi gametofit jantan. Serbuk sari gymnosperma masih tetap memakai sisa vegetatif dari talus gametofit. Sisa ini biasanya terdiri dari 1 atau 2 sel disebut sel protalium yang melebur sebelum fertilisasi. Perkecualian termasuk gnetum dan beberapa pinofit yang serbuk sari mirip dengan angiospermae tidak mempunyai sel protalus.

Serbuk sari gymnosperma juga tampak mengandung sisa anteredia nenek moyang. Sel generatif membelah membentuk sel tangkai dan sel badan yang menghasilkan sperma. Sel badan terutama anteredium bersel tunggal . Segera sebelum fertilisasi, sel badan membelah membentuk 2 sperma. Di antara gymnosperma, kecuali tipe perkembangan gametofit betina terjadi pada Gnetum dan Welwitschia, yang sel generatifnya langsung menjadi sel sperma. Pembentukan sel sperma secara langsung dari sel generatif juga merupakan ciri angiospermae.

c. Biji Gymnosperma

Sebagian besar biji gymnosperma yang masak terdiri dari lapisan integumen, gametofit betina multiseluler dan satu embiro atau lebih. Perkembangan bakal biji dimulai ketika sel tunggal dalam megasporangium mengalami miosis, membentuk tetrad megaspora haploid yang linier. Tiga spora biasanya melebur dan sisanya yaitu mengaspora fungsional mengalami pembelahan mitosis yang tidak segera diikuti sitokinesis. Pada Gnetum, walaupun semua inti mengaspora membelah berulang kali, satu spora berkembang seperti pada perkembangan kantong embrio tetrasporik lilium. Hasilnya berupa tahap senositik yang disebut gametofit betina berinti bebas.

Inti bebas dapat berjumlah paling sedikit 256 pada jenis Ephedra hingga paling banyak 8000 pada jenis Ginko, yang sangat lebih banyak dari pada gametofit betina angiosperma yaitu hanya 8-16 inti bebas. Dinding sel selanjutnya terbentuk di sekitar masing-masing inti, setelah dua atau lebih (hingga 200) arkegonia berkembang pada bagian mikropit (ujung dari bakal biji). Jika masak, tiap arkegonium mengandung satu sel telur dan semua sel telur bisa di fertilisasi. Arkegonium tidak ada pada beberapa anggota gnetofit.
Siklus hidup Gymnospermae
Embrio berjumlah banyak terdapat pada satu biji, yang kadang-kadang terjadi pada beberapa divisi gymnosperma. Terbentuknya embrio ini dapat melalui dua cara. Cara yang kurang umum disebut poliembrioni sederhana, terjadi ketika dua atau lebih zigot tumbuh menjadi embrio. Cara yang lebih umum yaitu embrio yang banyak berasal dari embrio tunggal terdiferensiasi menjadi lebih dari satu embrio. Mekanisme ini disebut dengan poliembrioni sigaran dan menghasilkan embrio klonal.

Tahap awal perkembangan embrio pada gymnosperma dicirikan dengan pembelahan inti bebas dari inti zigot (kecuali mungkin pada beberapa gnetofit). Embrio berinti bebas terdiri dari sebanyak empat inti pada pinus dan 256 inti pada cycad. Gametofit jadi seluler, sel dekat mikrofit ujung embrio memanjang menjadi sel suspensor pada semua divisi kecuali Ginkgophyta.

Penyebaran gymnospermae terbatas jika di bandingkan angiospermae karena, bijinya telanjang, tidak dilindungi karpel; tidak dapat di perbanyak secara vegetatif seperti angiospermae (secara stek, cangkok); secara ekonomi, kurang kegunaannya bagi manusia; xilem tidak punya vessel (trakea), floem tidak punya sel pengiring; penyebaran, anemofili dan manusia; uniseksual; pembuahan tunggal.

Gymnospermae mempunyai persamaan dengan angiospermae antara lain keduanya berupa pohon dan semak; sistem akar berkembang dengan baik, akar bisa di arch, triach, tetrach, atau polyarch. Xilem exsarch pada akar, terjadi pertumbuhan sekunder; keduanya menghasilkan biji; keduanya heterospora, gametofit terinduksi; megaspora terdapat dalam megasporangium (nuselus) dan tidak pernah lepas; nuselus dikelilingi oleh integumen membenuk struktur yang disebut bakal biji. Bakal biji mempunyai mikropil, bisa bertangkai atau sesil; serbuk sari tumbuh menjadi bulu serbuk.

 B. Angiospermae

a. Angiospermae

Angiospermae merupakan golongan tumbuhan yang dominan hidup sampai saat ini yang terdiri dari 300 suku. Diantara suku-suku yang termasuk angiospermae yang penting adalah golongan rumput-rumputan (Graminae) kurang lebih 7500 jenis. Keberhasilan angiospermae mendominasi lingkungan antara lain: Kemampuan untuk dapat tetap hidup dan berkembang biak pada hampir semua macam lingkungan; adanya bunga, buah dan biji; banyak yang berguna bagi kehidupan manusia sehingga diusahakan untuk di kembangbiakkan; dapat di perbanyak dengan stek, okulasi, sambung dan cara vegetatif lainnya.
Siklus hidup Angiospermae
Angiospermae mempunyai ciri-ciri antara lain: bakal biji tertutup oleh suatu badan yang berasal dari daun buah (karpel); Gametofit sederhana; pembuahan ganda. Angiospermae dibedakan dalam 2 kelas yaitu Dicotyledonae dan Monocotyledonae. Monocotyledonae mempunyai ciri: akar serabut; batang percabangannya sedikit, buku-buku terlihat jelas; bertulang daun paralel, melengkung; jumlah bagian bunga 3 atau kelipatannya; embrio mempunyai 1kotiledon; jaringan pengangkut pada batang tersebar, tidak berkambium (umumnya), sedangkan pada Dicotyledonae cirinya: akar tunggang; batang percabangannya banyak, buku-buku tak terlihat jelas; daun menjari, menyirip; jumlah bagian bunga 4, 5 atau kelipatannya; embrio mempunyai 2 kotiledon; jaringan pengangkut pada batang tersusun dalam lingkaran dan berkambium.

Demikianlah pembahasan mengenai "Penjelasan Spermatophyta, Gymnospermae dan Angiospermae", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Bentuk-bentuk Susunan Tulang Daun

Salah satu cara untuk mengidentifikasikan tumbuhan biasanya dapat dilihat dari morfologinya. Dilihat dari morfologinya bentuk susunan tulang daun adalah sebagai berikut:

1. Tulang Daun Menyirip

Tulang daun menyirip berbentuk seperti susunan sirip ikan. Contohnya adalah daun mangga, daun jambu, daun nangka dan daun rambutan.

Tulang daun menyirip

2. Tulang Daun Menjari

Bentuk tulang daun menjari seperti susunan jari-jari tangan. Contohnya adalah daun pepaya, daun singkong, daun kapas dan daun jarak.
Tulang daun menjari

3. Tulang Daun Melengkung

Bentuk tulang daun melengkung seperti garis-garis lengkung. Tulang daun jenis ini dapat kita temukan pada berbagai tumbuhan di lingkungan sekitar kita. Ujung-ujung tulang daun melengkung terlihat menyatu. Contohnya adalah daun sirih, daun gadung dan daun genjer.

Tulang daun melengkung

4. Tulang Daun Sejajar

Tulang daun sejajar seperti garis-garis lurus yang sejajar. Tiap-tiap ujung tulang daun ini menyatu. Contohnya adalah daun tebu, daun padi, dan semua jenis rumput.

Tulang daun sejajar

Demikianlah pembahasan mengenai "Bentuk-bentuk Susunan Tulang Daun", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Penjelasan Umum Kingdom Animalia

   Dilihat dari perkembangan evolusinya protozoa memiliki hubungan filogenik yang erat dengan animalia (dunia hewan). Baik itu protozoa maupun animalia inti selnya telah di batasi membran (eukariotik) akan tetapi, dalam perkembangan berikutnya animalia menunjukkan ciri yang berbeda dan lebih maju dari pada protozoa, karena tubuh animalia tersusun oleh banyaknya sel (multiseluler).

Di samping itu, pada beberapa filum sel-sel hewan juga telah mengalami diferensiasi menuju jaringan-jaringan dengan fungsi yang khusus. Atas dasar jumlah sel penyusun tubuh inilah maka protozoa dipisahkan dari animalia dan berdiri sendiri sebagai kingdom protista. Ada yang membagi dunia hewan ke dalam dua golongan, yakni hewan bersel satu (monozoa), yaitu protozoa, dan hewan bersel banyak (metazoa), meliputi hewan selain protozoa. Selain bersifat multiseluler dan eukariotik, semua hewan tidak memiliki kemampuan menghasilkan zat makanan sendiri. Hal ini dikarenakan hewan tidak memiliki pigmen penangkap energi cahaya matahari (klorofil), seperti yang dimiliki tumbuhan pada umumnya.


Karena itu kebutuhan makanan hewan di dapatkan dari lingkungannya, termasuk organisme lain. Jadi, hewan bersifat hetetotrof, berbeda dari tumbuhan yang bersifat autotrof. Sel-sel hewan juga tidak diperkuat oleh struktur di luar membran sel yang tersusun oleh hemiselulosa dan selulosa, yakni dinding sel, seperti yang di jumpai pada tumbuhan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa semua hewan bersifat eukariotik, multiseluler, hetetrotof, dan tidak memiliki dinding sel.

Animalia memiliki ciri-ciri multiseluler, hetetrotof, eukariotik, dan tidak memiliki dinding sel. Animalia di kelompokkan dalam dua golongan besar, yaitu invertebrata yang meliputi porifera, coelenterata, platyhelminthes, nemathelminthes, annelida, mollusca, arthopoda dan echinodermata; dan vertebrata meliputi satu filum yaitu chordata.

 Pembagian hewan ke dalam filum-filum tersebut berdasarkan jumlah lapisan jaringan embrionya, rongga tubuh (selom), habitat, anggota gerak (kaki, sayap, sirip dan tangan), kelengkapan organ (ekskresi, pencernaan, reproduksi, respirasi dan saraf), ada tidaknya ruas tulang belakang. Perbedaan pokok antara invertebrata dan vertebrata terletak pada ada tidaknya ruas-ruas tulang belakang.Invertebrata tidak memiliki ruas-ruas tulang belakang, sedangkan vertebrata memiliki ruas-ruas tulang belakang. Porifera permukaan tubuhnya berpori, diploblastik, memiliki rongga tubuh yang dinamakan spongosoel, habitat di air. Coelenterata bersifat diploblastik, habitat di air tawar atau di laut, memiliki rongga gastrovaskuler.

Helminthes (cacing) mencangkup cacing pipih (platyhelminthes), tubuhnya tidak berongga (aselomata), nemathelminthes; tubuh memiliki rongga tubuh semu (pseudoselomata), dan annelida; tubuhnya memiliki rongga tubuh yang sebenarnya (euselomata). Mollusca merupakan hewan bertubuh lunak, ada yang bercangkang dari zat kapur, tapi juga ada yang tidak bercangkang. Arthopoda memiliki ciri khas kaki dan tubuh bersegmen (beruas-ruas). Echinodermata permukaan tubuhnya tertutup oleh kulit duri (echinus). Chordata merupakan filum tertinggi dari kingdom animalia, telah memiliki notokorda yang berkembang menjadi ruas-ruas tulang belakang (vertebrae).

Filum chordata terdiri dari empat sub-filum, yaitu hemichordata, urochordata, chephalochordata dan vertebrata. Sub filum vertebrata terdiri dari lima kelas, yaitu pisces, amphibia, reptilia, aves dan mamalia.

Demilikianlah pembahasan mengenai "Penjelasan Umum Kingdom Animalia", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Porifera

   Porifera, dalam bahasa latin disebut dengan porus yang berarti pori dan fer yang berarti membawa. Jadi, apa iut porifera?. Pengertian porifera adalah hewan invertebrata yang tidak memiliki jaringan sejati  (parazoa), tanpa organ dan jaringan yang tidak terspesialisasi dan tubuhnya memiliki terdapat banyak pori. Porifera merupakan anggota dari animalia yang merupakan paling sederhana atau primitif. Habitat dan cara hidup porifera adalah sebagian besar hidupnya di laut dan sebagian kecilnya lagi hidup di air tawar. Pada umumnya porifera hidupnya ada di daerah pada perairan yang dangkal dan juga jernih, namun juga di perairan berpasir atau berlumpur. Porifera dewasa hidupnya sesil atau melekat di suatu substrak. Porifera hidup secara hetetotrof dengan jenis makanan bakteri dan plankton.

A. Ciri-ciri Porifera

Porifera merupakan metazoa, permukaan tubuh berpori, dan hidup di dalam air, terutama di laut. Bentuk tubuh seperti vas bunga atau tabung. Dilihat dari jumlah lapisan jaringan embrionya porifera tergolong diploblastik. Pada dinding tubuhnya, lapisan luar terdiri dari sel-sel epidermis atau pinakosit dan lapisan dalam (endodermis) tersusun oleh sel-sel leher atau koanosit.

Di antara epidermis dan endodermis terdapat lapisan tengah semacam gelatin, yang di dalamnya terdapat sel-sel menyerupai amoeba (amoebosit) dan bahan pembentuk rangka tubuh. Lapisan tengah ini sering disebut mesenkim. Bahan pembentuk rangka tubuh porifera ada 2 macam, yaitu spikula dan spongin. Bahan penyusun spikula dapat berupa zat kapur, atau zat kersik/silica. Bahan penyusun spongin adalah protein. Macam pembentuk rangka tubuh merupakan salah satu dasar klasifikasi porifera.

Pori-pori yang terdapat di dalam permukaan tubuh disebut ostium, merupakan celah tempat masuknya air yang membawa zat makanan. Pori tersebut berlanjut ke rongga tubuh yang disebut spongosoel atau atrium. Bila air yang masuk ke spongosoel membawa zat makanan, zat-zat ini akan di alirkan dan selanjutnya di cerna oleh sel-sel koanosit, sisanya di buang kembali ke spongosoel yang akhirnya akan di buang ke luar tubuh melalui lubang oskulum.

 B. Klasifikasi Porifera

Berdasarkan bahan penyusun spikulanya, porifera di beda-bedakan menjadi tiga kelas, yaitu calcarea, hexactinellida dan demospongia.

1. Kelas Calcarea

Kelas calcarea memiliki kerangka tubuh berupa sikula (banyak spikulum) berbentuk jam dari zat kapur atau kalsium karbonat (CaC03), habitatnya di laut dangkal, dan memiliki sel berleher (koanosit) yang berukuran besar. Contohnya, Leucosolenia, Grande, Clatrina, Sycon, dan Scypha.

2. Kelas Hexactinellida

Kelas hexactinellida memiliki kerangka tubuh berupa spikula dari zat silikat (zat kersik). Spikulum hexactinellida berbentuk triakson berupa tiga batang jam yang saling silang tegak lurus sehingga menyerupai bangunan yang memiliki enam jari-jari. Hidupnya di laut dalam. Sistem saluran airnya sederhana. Contohnya, Pheronema dan Euplectella (pena laut).

3. Kelas Demospongia

Kelas demospongia ada yang memiliki spikula dari zat kersik (silikat dan serabut spongin). Namun demikian. Ada yang hanya memiliki spikula atau spongin saja, atau bahkan, tidak memiliki keduanya. Spikulum pada demospongia berbentuk tetrakson. Contohnya, Euspongia molisima. Elypospongia equina, dan spikula dari spongia saja, misalnya spongilla. Anggota kelas ini memiliki sistem saluran air yang rumit.

C. Peranan Porifera

Secara ekonomi porifera belum banyak diketahui manfaatnya. Sisa spons dari spongilla sp, maupun euspongia sp sering dimanfaatkan sebagai spons penggosok mandi, atau spons penggosok untuk membersihkan kaca.

Demikianlah pembahasan mengenai "Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Porifera", Semoga bermanfaat.

Related Posts:

Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Coelenterata

   Secara umum coelenterata (cnidaria) adalah hewan invertebrata yang mempunyai rongga dengan bentuk tubuh seperti tabung dan mulut yang di kelilingi oleh tentakel. Pada saat berenang, mulut coelenterata menghadap ke dasar laut. Tubuh coelenterata (hewan berongga) adalah terdiri atas jaringan luar (eksoderm) dan jaringan dalam (endoderm) serta sistem otot yang membujur dan menyilang (mesoglea). Istilah coelenterata berasal dari bahasa yunani dari kata coeles yang berarti rongga dan interon yang berarti usus. Fungsi rongga tubuh pada coelenterata adalah sebagai alat pencernaan (gastrovaskuler).

Ubur-ubur

Coelenterata lebih dikenal dengan sebutan cnidaria. Istilah cnidaria berasal dari bahasa yunani dari kata cnida yang berarti penyengat karena sesuai dengan namanya cnidaria yang memiliki sel penyengat. Sel penyengat terdapat pada tentakel yang ada di sekitar mulut. Contoh coelenterata (hewan berongga) adalah ubur-ubur, hydra dan anemon laut.

A. Ciri-ciri Coelenterata

Berdasarkan lapisan jaringan embrionya coelenterata masih tergolong diploblastik. Lapisan luar tubuhnya tersusun oleh sel-sel epidermis dan lapisan dalamnya berupa gastrodermis. Lapisan dalam melapisi rongga gastrovaskuler. Tidak seperti porifera, coelenterata hanya memiliki satu lubang yang berfungsi sebagai mulut sekaligus sebagai anus. Pada lapisan epidermis terdapat sel-sel khusus yang dapat menghasilkan sengat.

Sengat ini berfungsi untuk melumpuhkan mangsa atau membela diri saat menghadapi musuh. Di antara epidermis dan gastrodermis terdapat lapisan mesoglea yang kadang-kadang mengandung sel. Kebanyakan coelenterata hidup di laut, hanya sebagian yang hidup di air tawar. Coelenterata mengalami pergiliran keturunan/metagenesis antara fase polip dan medusa. Polip berbentuk silindris dan pada bagian proksimal melekat di suatu tempat, bagian distal terdapat mulut yang di kelilingi tentakel. Medusa umumnya berbentuk seperti payung, sisi bawah bagian tengah terdapat mulut. Ruang digesti berupa saluran-saluran radial dengan empat cabang utama yang bermuara pada saluran sirkuler.

B. Klasifikasi Coelenterata

Coelenterata memiliki sekitar 10.000 spesies yang telah di dentifikasi. Coelenterata terbagi dalam beberapa kelas yaitu sebagai berikut.

1. Hydrozoa

Hydrozoa berasal dari bahasa yunani, dari kata hydro yang berarti air, dan zoon yang berarti hewan. Hydrozoa merupakan hewan yang sebagian besar hidup di laut dan terdapat sebagian dari spesiesnya hidup di air tawar. Hydrozoa hidup sebagai polip, medusa atau keduanya. Gastrodermis hydrozoa tidak mengandung nematosista.

Hydrozoa
Polip hidup secara soliter atau berkoloni. Pada saat polip soliter hydra membentuk tunas yang telah memiliki mulut dan tentakel yang akan lepas dari induknya. Namun pada polip yang berkoloni seperti obelia, tunas-tunas tetap menempel pada induknya dan saling berhubungan, disebut dengan koloni hidroid. Koloni hidroid menetap pada suatu tempat dengan hidroriza, yaitu percabangan horisontal (mirip akar) yang tertanam di dalam substrak.

Hydrozoa mempunyai dua macam alat indra, yaitu oseli sebagai pengindra cahaya dan statosista sebagai alat keseimbangan. Sebagian medusa menunjukkan gerak fototaksin negatif (menjauhi sinar), namun ada juga yang fototaksis positif (mendekati sinar). Contohnya hydrozoa adalah obelia, hydra dan physalia.

Kesimpulan, dan Ciri-ciri Hydrozoa 

  • Hidup di air tawar atau air laut
  • Hidup secara koloni dan soliter
  • Memiliki bentuk seperti silinder dan dapat bergerak di bebatuan dalam menangkap makanan
  • Berkembangbiak secara aseksual dan seksual.

2. Scyphozoa

Scyphozoa
Istilah scyphozoa berasal dari bahasa yunani, dari kata skyphos yang berarti mangkuk, dan zoon yang berart hewan. Scyphozoa merupakan hewan yang hidup di laut dan sebagai ubur-ubur sejati, karena medusa memiliki bentuk dominan dalam siklus hidupnya. Umumnya medusa berenang secara bebas, dengan membentuk seperti payung dengan ukuran diameter sekitar 2-40 cm, sampai ada juga yang mencapai 2 m. Medusa memiliki warna yang menarik, misalnya jingga, kecoklatan, kesumba. Ordo stauromedusae (lucernariida) mempunyai medusa yang bertangkai pada bagian aboral dan sesil atau menempel pada ganggang dan juga benda lainnya. Terdapat scyphozoa tidak mempunyai bentuk polip, seperti atolla, dan pelagia.

Namun terdapat juga yang memiliki bentuk polip, tetapi dengan ukuran kecil berupa skifistoma. Contohnya pada aurelia. Scyphozoa umumnya diesis dan gonad terdapat di gastrodermis. Sel telur atau sperma masuk ke dalam rongga gastrovaskuler dan di keluarkan melalui mulut. Fertilisasi dapat terjadi secara eksternal di air laut atau di koral. Contoh scyphozoa adalah aurlia, cyanea, perphylla chrysaora, dan rhizostoma.

Kesimpulan, dan Ciri-ciri Scyphozoa

  •  Memiliki ukuran yang besar dan terdapat banyak di pantai seperti ubur-ubur dan hidup di laut
  • Memiliki saluran bercabang sebagai alat pencernaan
  • Pada bagian tepi dikelilingi oleh tentakel
  • Pada sekitar mulut, terdapat empat lengan dengan terdapat nematoksit yang berfungsi melemahkan mangsa
  • Sistem saraf yang berbentuk anyaman.

3.  Anthozoa

Anthozoa
Istilah anthozoa berasal dari bahasa yunani, dari kata anthos yang berarti bunga, dan zoon yang berarti hewan. Anthozoa merupakan hewan laut yang memiliki bentuk mirip bunga. Anthozoa hidup sebagai polip soliter atau berkoloni dan tidak mempunyai bentuk medusa. Terdapat anthozoa yang membentuk rangka dalam atau rangka luar dari zat kapur, namun ada juga yang tidak membentuk rangka. Rongga gastrovaskular pada anthozoa bersekat-sekat dan mengandung nematosista. Gonat ada di gastrodermis. Anthozoa memiliki 6.100 spesies diantaranya sebagai berikut.
  • Metridium dan edwardisia, merayap dengan pedal mirip dengan kaki
  • Acropor, fungia, astrangia, mempunyai rangka luar dari zat kapur yang disebut dengan karang batu
  • Cerianthus, polip dengan bentuk mirip anemon panjang yang bertentakel banyak dengan di bungkus oleh selubung dari lendir dan pasir yang mengeras
  • Antipathes, koral hitam, rangka tersusun dari zat tanduk, dan memiliki bentuk seperti ranting tumbuhan yang bercabang-cabang dengan warna hitam.

Kesimpulan, dan Ciri-ciri Anthozoa

  • Memiliki bentuk yang menyerupai bunga, mempunyai warna yang beragam
  • Mempunyai tentakel dengan jumlah yang banyak dan berkelipatan 8
  • Hewan yang hidup di air laut yang jernih
  • Tidak memiliki bentuk medusa dan ada juga yang berbentuk polip namun sangat langka

4. Cubozoa

Dulu, cubozoa terdapat di dalam golongan scyphozoa, namun setelah ditemukan perbedaan yang mendasar. Kemudian dijadikan kelas tersendiri. Perbedaan tersebut adalah cuboza mengalami metamorfosis lengkap dari polip hingga ke medusa payung (tubuh) berbentuk kotak, dan memiliki lensa mata yang kompleks. Cubozoa merupakan ubur-ubur sejati. Medusa memiliki bentuk lonceng dengan empat sisi yang datar, sehingga menyerupai bentuk kubus. Memiliki tinggi lonceng mencapai 17 cm dengan jumlah tentakel 4 buah atau empat rumpun yang panjangnya mencapai 2 m.

Cubozoa
Cubozoa dapat berenang cepat secara horisontal dengan bagian aboral sebagai sebagai anteriornya. Habitat cubozoadi laut tropis dan subtropis dengan makanan utamanya adalah ikan. Sebagian cubozoa berdampak buruk bagi perenang karena sengatan nematosisnya dapat menyebabkan luka yang sulit untuk disembuhkan, sampai menyebabkan kematian dalam waktu 3-20 menit. Contohnya pada chironex fleckeri (sea waspas) di perairan indo-pasifik.

Kesimpulan, dan Ciri-ciri Cubozoa

  •  Berbentuk polip dan juga medusa payung
  • Memiliki bentuk kotak dan lensa mata yang kompleks
  • Mempunyai sisi datar yang menyerupai bentuk kubus
  • Tinggi lonceng sekitar 17 cm dengan 4 tentakel yang panjangnya mencapai 2 m
  • Berenang secara horisontal

C. Peranan Coelenterata

Terdapat beberapa peranan coelenterata baik yang bermanfaat atau yang menguntungkan maupun yang merugikan bagi kehidupan manusia antara lain sebagai berikut.
  • Untuk menahan hantaman ombak (karang pantai dan karang penghalang/barrier reef)
  • Sebagai bahan makanan. Contohnya pada ubur-ubur, anemon laut/ mawar laut
  • Sebagai taman laut (mawar laut yang beraneka warna)
  • Sebagai hiasan di bawah laut atau akuarium air laut
  • Sebagai tempat berlindung dan berkembangnya biota laut
  • Dapat menarik wisatawan pengunjang pada wisata laut menyelam jika memiliki terumbu karang yang bagus dan eksotik. Contohnya taman laut bunaken
  • Sebagai pembuat jalan dan landasan bangunan
  • Sebagai bahan dapur seperti batu karang
Demikianlah pembahasan mengenai "Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Coelenterata", semoga bermanfaat.

Related Posts:

Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Platyhelminthes (cacing pipih)

   Platyhelminthes (cacing pipih) adalah filum dalam kerajaan animalia (hewan) yang bersifat triploblastikyang hidup parasit dan memiliki bentuk tubuh yang rata (pipih). Terdapat 18.500 spesies dari platyhelminthes (cacing pipih). Istilah platyhelminthes berasal dari bahasa yunani yang terdiri dari kata platy yang berarti pipih dan helminthes yang berarti cacing. Platyhelminthes merupakan filum ketiga dari kingdom animalia (hewan) setelah polifera dan coelenterata.


A. Ciri-ciri Platyhelminthes (cacing pipih)

Platyhelminthes (cacing pipih) memiliki beberapa ciri-ciri/karakteristik umum antara lain sebagai berikut.
  • Memiliki bentuk tubuh pipih, simetris dan tidak bersegmen
  • Memiliki ukuran tubuh mikroskopis dan ada juga yang memiliki panjang tubuh 20 cm yaitu cacing pita
  • Memiliki satu lubang yaitu di mulut tanpa dubur
  • Memiliki daya regenerasi yang tinggi dan bersifat hermafrodit (dua kelamin)
  • Hidup parasit dan ada juga yang hidup bebas
  • Habitat di air tawar, air laut, tempat lembap atau dalam tubuh organisme lain
  • Melakukan perkembangbiakan (bereproduksi) secara generative  dengan perkawinan silang dan bereproduksi secara vegetatif yaitu membelah diri
  • Sensitif dengan cahaya
  • Tidak memiliki sistem pernapasan. Cacing pipih menggunakan pori-pori sebagai tempat masuknya oksigen. Masuknya oksigen ke pori-pori dengan cara difusi
  • Tidak mempunyai rongga sejati, namun memiliki simetri bilateral
  • Tidak memiliki sistem pencernaan lengkap. Pencernaan platyhelminthes (cacing pipih) melalui rongga gastrovaskular
  • Mempunyai sistem saraf tangga tali dan memiliki mata
  • Platyhelminthes (cacing pipih) tidak mempunyai pembuluh darah. Sehingga rongga gastrovaskular berperan mendistribusikan nutrisi ke seluruh tubuh
  • Platyhelminthes (cacing pipih) bersifat triploblastik (memiliki tiga lapisan embrional), yaitu epidermis (lapisan luar), mesodermis (lapisan tengah), dan endodermis (lapisan dalam)

B. Klasifikasi Platyhelminthes

 Platyhelminthes terdiri dari 3 kelas, yaitu :

1. Kelas Turbellaria

Turbellaria merupakan kelompok platyhelminthes yang dapat bergerak dengan menggertakan bulu getarnya. Cacing pipih jenis ini hidup secara bebas (bukan parasit) dan tidak memiliki alat hisap. Tempat hidupnya di air atau tempat lembap, dan tidak hidup pada tempat yang terkena cahaya matahari langsung. Salah satu hewan jenis ini yang sangat dikenal adalah planaria. Tubuh planaria memiliki panjang 1-2 cm. Planaria memakan protista dan hewan kecil lainnya, planaria memakan mangsanya dengan menggunakan faring. Setelah ditangkap, makanan akan dipecah dan di dorong masuk ke lambung oleh faring.

Umumnya hewan jenis ini melakukan reproduksi secara seksual. Warna tubuhnya gelap dan pada bagian kepala terdapat bintik mata untuk membedakan keadaan gelap dan terang. Mulutnya terdapat di permukaan ventral juga bisa di tengah tubh. Pada mulut terdapat struktur seperti taring yang disebut probosis, probosis berfungsi untuk menangkap mangsa. Turbellaria mampu beregenerasi dengan cara memotong tubuh, dan daya regenerasi ini sangat baik.

2. Kelas Trematoda (cacing hisap)

Tremotoda merupakan kelompok platyhelminthes yang memiliki alat hisap dan alat kait untuk menempelkan diri pada inangnya. Trematoda merupakan platyhelminthes yang hidupnya parasit. Tubuh bagian luarnya ditutupi oleh kutikula yang berfungsi agar tubuhnya tidak tercerna oleh sel tubuh inangnya. Hewan jenis ini tidak memiliki silia pada permukaan luar tubuh. Makanan dari trematoda merupakan cairan atau jaringan tubuh inangnya. Dinding tubuhnya memiliki otot dan saraf. Contoh hewan ini adalah cacing hati.

3. Kelas Cestoda (cacing pita)

Crestoda merupakan kelompok platyhelminthes yang berbentuk seperti pita dan bersifat parasit. Pada bagian kepala hewan ini terdapat kait yang berfungsi untuk mengaitkan tubuhnya pada usus inang. Kepala cacing pita disebut skoleks dan bagian di bawah kepala disebut strobilus. Bagian strobilus berfungsi untuk membentuk progtolid pada hewan ini. Progtoli merupakan bagian tubuh yang akan menjadi individu  baru nantinya. Cestoda terus membentuk progtolid tersebut semakin besar dan semakin matang. Selama siklus hidupnya  mereka dapat melibatkan lebih dari satu inang. Cacing pita dapat ditularkan ke manusia melalui daging babi atau sapi terinfeksi yang tidak dimasak dengan matang.

C. Peranan Platyhelminthes (cacing pipih)

Umumnya platyhelminthes merupakan cacing yang merugikan karena bersifat parasit pada manusia dan hewan, namun terdapat spesies platyhelminthes (cacing pipih) yang tidak merugikan manusia atau hewan yaitu planaria. Planaria memiliki peranan yang dimanfaatkan sebagai makanan ikan. Platyhelminthes (cacing pipih) lebih banyak memberikan dampak kerugian bagi manusia dan hewan. Ketika manusia mengkonsumsinya, dampaknya dapat merugikan manusia karena terinfeksi cacing yang dapat menyebabkan masalah-masalah bagi kesehatan manusia.

Demikianlah pembahasan mengenai "Pengertian, Ciri, Klasifikasi dan Peranan Platyhelminthe (cacing pipih)", semoga bermanfaat. 

Related Posts: